Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Taqwa’

Hasil Tanganku

Image

Tanganku akan hancur di dalam tanah,
Yang kekal hanya tulisanku di atas buku,
Mujurlah sesiapa yang membaca tulisan aku,
Doakan keselamatan aku dari azab.

Advertisements

Read Full Post »

Makna kata – Al Fatihah = opener = pembuka

Antara nama-nama yang digunakan untuk merujuk kepada Al Fatihah – Umm Al-Quran(Intipati Quran), Al-Asas (Dasar, pasak), Ash-Shafiyah (Pengubat), and Al-Kafiyah (the Sufficient).

Secara ringkasnya, surah Al Fatihah mengandungi semua prinsip asas yang diterangkan secara lengkap dalam surah-surah yang lain.

Prinsip Asas dalam Al-Fatihah:

  1. Intipati agama adalah bersyukur atau berterima kasih dengan tuhan.
  2. Allah adalah Raja, Pemilik, Penguasa bagi seluruh alam.
  3. Allah itu sangat baik, penyayang dan pengasih dan mudah menolong bagi sesiapa yang meminta.
  4. Allah juga adalah hakim bijaksana lagi adil, tidak pula berkompromi dengan kezaliman, kejahatan dan perbuatan dosa.
  5. Hari Pembalasan, Kiamat pasti datang, dimana kesemua manusia pasti kembali kepada Allah.
  6. Ta’abbud, sembahan hanya pada Allah, segala doa dituju langsung kepada Allah. Allah pasti memberi dan kabulkan dengan adabnya.
  7. Seseorang itu wajib senantiasa memohon petunjuk dan hidayah Allah serta kekal di jalan kebenaran iaitu bersama dengan orang beriman kepada Allah.
  8. Kebenaran dan keikhlasan yang sebenar datang apabila kita mengikuti contoh tauladan daripada orang-orang yang telah diberi hidayah dan ikhlas serta dibawah lindungan Allah seperti: para rasul, nabi, orang soleh dan orang yang mengikhlaskan dirinya kepada Allah.
  9. Seseorang itu wajib senantiasa berhati-hati untuk tidak membuat Allah marah.
  10. Seseorang itu jangan pernah sekalipun dia terfikir untuk tidak peduli untuk mendapat Allah atau tidak serta wajib senantiasa berhati-hati agar tidak sesat.

Selepas memahami dengan mengamalkan prinsip dari Al Fatihah inilah, seterusnya datanglah penerangan yang terperinci daripada surah yang lain. Orang Islam menganggap Al Fatihah sebagai doa dan Al Quran itulah jawapannya – formula untuk mencapai intipati doa.

Baca dan dengar juga laman ini:

Read Full Post »

Ambilan dari http://hendry.tblog.com/post/393321

Alhamdulilahi Rabbil ‘alamin, wash-shalatu was-salamu ‘alaa Sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihih wa sallam, wa ba’du

Ilmu tajwid dengan beragam istilah yang ada di dalamnya secara teori itu memang ditulis bukan di masa Rasulullah SAW. Di masa Rasulullah SAW masih hidup, tiap orang Arab sudah tahu bagaimana cara membaca atau melafazkan Al-Qur’an dengan baik dan benar. Bahkan meski orang itu belum masuk agama Islam sekalipun. Sebab Al-Qur’an memang diturunkan kepada mereka dan dalam bahasa mereka, meski isinya untuk seluruh manusia sedunia. Maka di masa Rasulullah SAW memang nyaris tidak dibutuhkan ilmu tajwid.

Ketika agama Islam melebarkan sayap ke seluruh dunia, lalu orang-orang non Arab masuk Islam berbondong-bondong, mulailah timbul problem dalam membaca Al-Quran. Lidah mereka sulit sekali mengucapkan huruf-huruf yang ada di dalam Al-Quran. Misalnya huruf ‘dhad’ yang ternyata tidak pernah ada di dalam semua bahasa manusia. Sehingga bahasa arab dikenal juga dengan sebutan bahasa ‘dhad’.

Maka dibutuhkan sebuah disiplin ilmu tersendiri tentang bagaimana cara membaca Al-Qur’an yang baik dan benar, sesuai dengan makhraj masing-masing huruf dan sifat-sifatnya. Juga bagaimana cara melafazhkannya, membacanya dari mushaf dan seterusnya. Sebab di masa Rasulullah SAW mushaf yang ada masih terlalu sederhana tulisannya. Kalau bukan orang arab, mustahil ada yang bisa membacanya. Ilmu itu dinamakan ilmu tajwid yang berfungsi menjelaskan bagaimana cara membaca dan membaguskan bacaan Al-Qur’an.

Dalam tarikh Islam, disebut-seubt nama Abul Aswad Ad-Du’ali yang berjasa dalam membuat harakat (tanda baris) pada mushaf Al-Quran. Juga membuat tanda-tanda berhenti dalam membacanya (waqaf). Beliau masih termasuk dalam jajaran tabi’in, yaitu satu lapis generasi setelah shahabat Rasulullah. Disebut-sebut bahwa beliau melakukannya atas perintah dari Ali bin Abi Thalib. Setelah itu, para ulama dari berbagai penjuru negeri Islam mulai berlomba menyempurnakan apa yang telah beliau rintis. Sehingga akhirnya ilmu tajwid menjadi semakin lengkap hingga sekarang ini.

Ilmu tajwid bisa dibedakan berdasarkan praktek maupun teorinya. Yang dimaksud seorang menguasai ilmu tajwid secara praktek adalah bila seseorang mampu membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai dengan makharijul huruf dan aturan-aturannya. Sedangkan yang dimaksud dengan menguasai ilmu tajwid secara teori adalah mengetahui hukum-hukum tajwid lengkap dengan istilah-istilahnya.

Antara keduanya bisa dikuasai secara terpisah atau bisa menyatu. Misalnya, ada orang yang bisa membaca Al-Qur’an dengan benar dan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid meski tidak bisa menerangkan istilah-istilah hukum bacaan itu. Dan sebaliknya, bisa jadi ada orang yang secara teori paham dan hafal betul semua aturan teoritis cara membaca Al-Qur’an, tapi giliran disuruh membacanya, bacaannya justru amburadul dan berantakan.

Sehingga bila dipisahkan antara ilmu tajwid secara teori dan praktek, maka hukumnya menguasai ilmu tajwid secara teori adalah sunnah buat setiap muslim. Tapi ilmu itu tetap sangat berguna untuk mengajarkan cara bacaan, sehingga harus tetap ada sekelompok tertentu dari umat Islam dengan jumlah cukup dimana mereka menguasai ilmu itu secara terori dan praktek. Sehingga kedudukan hukumnya bisa mencapai derajat fardhu kifayah bagi tubuh umat Islam secara kolektif.

Namun menguasai ilmu tajwid secara praktek wajib hukumnya bagi tiap individu muslim. Dan seseorang tidak bisa disebut sudah bisa baca Al-Qur’an bila tidak menguasai ilmu tajwid secara praktek. Allah berfirman,

Berkatalah orang-orang yang kafir, “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil.(Al-Furqan: 32)

Dan bacalah Al Qur’an itu dengan tartil. (Al-Muzzammil : 4)

Sebagai seorang muslim, maka kewajiban kita adalah membaca Al-Qur’an persis sebagaimana dibacakan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW. Apa yang kita dengar itulah yang harus diikuti dan dibaca. Lepas dari bagaimana bentuk tulisannya atau apa nama hukumnya. Sebab tulisan dan istilah hukum bacaannya adalah sesuatu yang datang kemudian.

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (Al-Qiyamah: 180).

Read Full Post »

Oleh Safwan Saparudin

Mendengar promo palestinkini.info di dalam sebuah corong radio tempatan, seorang apek cina membebelkan: ”Palestin…manyak problem ma…” yang pada saya telah memaknai komen sinis lagi tersirat. Menafsirkannya, jika sedemikian persepsi masyarakat umum dalam melihat isu Palestin sekadar isu sahaja tanpa kajian teliti dan menimbang dengan mizan yang sahih, sama juga semudah mengomel: ”banyak betul masalah Palestin nih…” atau ”tak habis-habis lagi ke perang Palestin-Israel nih?”. Mudah menghukum dan kaya dengan alasan tanpa menterjemah kepada tindakan. Begitu, tidak bijak menyalahkan sesiapa kerana sebenarnya isu ini belum ’menggigit’ hati masyarakat dunia khususnya rakyat Malaysia.

Syaikh Abdullah Nasih Ulwan, seorang ulama Muslimin telah menoktahkan beberapa poin berharga sebab yang menjerumuskan wilayah Palestin seperti wajahnya kini. Merawatnya bererti kita bakal mengembalikan kemenangan yang dijanjikan.

Pertama,

Punahnya maknawi dan ruhi umat. Unsur spiritual umat Islam sudah hilang. Mereka tidak mengenal agama mereka sendiri. Tenggelam dalam karat materialisme dan duniawinya. Mereka sudah terhakis ruh Islam yang basah dengan nilai itu. Di sana sini tersebarnya gejala maksiat dan candu-candu jahiliyah. Kaki zina, kaki botol, kaki riba dan segala kaki ini kini sangat berleluasa di dalam jantung umat. Nauzhu billah!

Kepentingan aspek ruhi dan maknawi ini telah menghadirkan Saidina Umar al-Khattab yang berpesan kepada Saad bin Abi Waqqas, komander tentera Islam yang menghancurkan kejahatan Parsi.

Amma ba’du, sesungguhnya aku memerintahkanmu untuk bertaqwa kepada Allah (SWT) atas segalanya. Sebab, taqwa kepada Allah (SWT) adalah persiapan paling sempurna menghadapi musuh dan tipu daya dalam pertempuran.

Aku perintahkan kamu dan orang yang menyertaimu untuk selalu menjaga diri dari perbuatan maksiat yang berasal dari diri kalian sendiri daripada maksiat musuh-mush kalian. Sebab, dosa tentera kita lebih aku takutkan daripada kekuatan musuh.

Ketahuilah bahawasanya kemenangan kaum muslimin disebabkan perbuatan maksiat musuh-musuh mereka terhadap terhadap Allah (SWT). Kalau bukan demikian, kita tidak punya kekuatan apa-apa kerana jumlah kita tidak sebanyak mereka dan persiapan tempur tidak selengkap mereka.

Jika kita berbuat maksiat, maka mereka memiliki keunggulan kekuatan (kerana jumlah dan persenjataan yang lebih canggih). Kita bisa menang kerana keutamaan kita (meninggalkan maksiat).

Dunia selalu tercengang melihat ’keajaiban’ tentera Islam yang sedikit mampu mengalahkan ratusan ribu musuh-musuh Allah (SWT). Kesimpulannya, syarat pertama untuk menang adalah taqwa kepada Allah (SWT) dan menjaga diri dari maksiat. Menurut Syaikh, Salahudin Al-Ayyubi berjaya membebaskan Palestin juga kerana faktor ini. Subhanallah!

Kedua,

Perpecahan demi perpecahan. Dunia Islam kini sedang menggali kuburnya sendiri. Mana tidaknya, kesatuan dan ukhowiyah dunia Islam makin hakis. Masing-masing saling bercakaran, berbantah-bantah dan taksub kenegerian. Pemerintah Islam kini lemah dan angkuh, berkompromi dengan musuh Allah (SWT) sehingga menggadaikan maruah Islamnya. Akibatnya musuh-musuh Islam mengambil kesempatan menyerbu dan meratah umat Islam sekenyang-kenyangnya. Lihatlah saja kepada Iraq-Iran, Kuwait dan Iraq, Libya dan Arab Saudi dan dunia Islam lain.

“Dan janganlah kamu berselisih, maka kamu jadi lemah dan hilang kekuatanmu…” (Al-Anfaal 46)

Mengapa perpecahan ini makin parah? Kita dapat membahagi kepada dua: luaran dan dalam. Sebab luaran terangkum dalam konspirasi musuh dan juga fitnah yang menyebabkan negara umat Islam saling tuduh-menuduh dan berperang sesama sendiri. Akibatnya, mereka bergantung pada orang luar (negara asing) dalam ekonomi dan sumber teknologi canggih. Faktor dalaman, yang ini lebih bahaya, berakar dari sifat pemimpin umat Islam yang fanatik kenegaraan dan terlalu egoisme (tidak mahu bertoleransi). Maka apabila dasar khilaf atas nafsu, maka kebenaran mana mungkin menjelma.

Kesatuan adalah prinsip asas kemenangan umat Islam. Tanpa kesatuan ummah, tanah anbiya’ Palestin amat sulit dibebaskan dari penjajahan Zionis dunia yang sangat berpengaruh.

Ketiga,

Pemimpin Islam suka beretorik dari bertindak. Pasca pendudukan Israel di tanah Palestin pada 1948, negara Arab sekadar membangkang, namun usaha serius dalam penentangan tidak begitu menggigit. Sekadar perang mulut dan persiapan kurang serius dan tidak total memukul Israel. Persiapan yang amat sedikit dan persenjataan yang mundur telah menobatkan musuh Allah (SWT) ini menakluk Palestin. Dalam kelompok yang serius mempersiapkan kekuatan adalah Ikhwan al-Muslimun yang mengorbankan ribuan anggotanya memukul Israel, namun usaha mereka disalahertikan dan yang lebih malang, kepulangan mereka disambut dengan jeriji besi gergasi. Sedemikian korupnya insan yang memikul pemerintahan Mesir ketika itu.

Persiapan yang matang dan tumpuan penuh adalah prasyarat membebaskan bumi Palestin. Secara komprehensif, kekuatan dalaman juga luaran, fizikal dan mental, teknologi dan strategi, ekonomi dan ketenteraan, mental dan spiritual harus kukuh dan bersedia. Jika di Palestin sendiri begitu keperluannya, maka kita yang diluar bagaimana?

Keempat,

Niat berjuang bukan Lillahi Rabbul Alamin. Niat bangsa Arab berperang sekitar 1948 dulu berorientasikan fanatisme Arabnya, maka hari yang berlalu menyaksikan usaha mereka asyik kecundang. Inilah juga yang berlaku dalam Perang trio Inggeris-Perancis-Israel mengganyang Mesir 1956, ’Perang Enam Hari’ 1967, Perang Mesir-Syria menentang Israel 1973 yang masih lagi jelas memuncakkan Pan Arabismenya di situ. Begitulah juga di dalam wilayah Palestin yang dikumandangkan adalah ideologi nasionalisme dan sekularisme. Maka, kita lihat mereka (umat Islam) tewas dalam perjanjian ’damai’ dan kompromi mereka dengan musuh-musuh Allah (SWT).

Alhamdulillah, 1987, menyaksikan cahaya Islam terbit dalam bumi Palestin sendiri apabila laungan Intifadah bergema dan ideologi perjuangannya, ”Kembali kepada Islam!”, makin popular. Usaha HAMAS mendapat sokongan ramai dan berjaya meningkatkan komitmen Israel untuk terus berperang. Islam menjadi ideologi perjuangan rakyat Palestin dan bukan lagi anutan jahiliyyah yang kian tenggelam. Jelas, kemenangan buat Palestin adalah bersyarat. Meletakkan Allah (SWT) sebagai landasan niatnya. Menjadikan Syariah prinsip pemerintahannya. Meninggikan kalimah Allah (SWT) sebagai cogankatanya.

Kelima,

Anggapan isu Palestin hanya isu lokal. ”Masalah Palestin adalah masalah bangsa Arab”, ”masalah mereka biar mereka yang selesaikan”…begitulah sikap sebahagian umat Islam dalam menanggapi isu umat ini. Selagi mana semangat asabiyah kenegaraan (nasionalisme) mencengkam umat maka selagi itu, kita hanya mampu melihat rakyat Palestin berseorangan mempertahankan kesucian Masjid Al-Aqsa. Kini, hatta sehingga kiamatpun, al-Aqsa terus dijajah selamanya.

Persidangan Negara-Negara Islam (OIC) yang dicipta pasca peristiwa pembakaran masjid al-Aqsa 1969 lalu tidak menampakkan inisiatif berkesan dan usaha yang bersungguh-sungguh. Pemimpin Islam lebih gemar beretorik dari bertindak. Jika beginilah sikap dunia Islam dan kuasa antarabangsa, sememangnya masih lambat lagi bumi Palestin dapat dibebaskan.

Menutup bicara, kunci indah dari Allah (SWT) ini mampu melembutkan hati dan menenangkan jiwa kita. Isu Palestin ini bisa jadi rawatan terhadap apa jua persoalan mencengkam kuasa-kuasa Islam dengan syarat taqwa dan ukhowiyah mereka berdiri kukuh:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara… (Al-Hujurat ayat 10)

Sesungguhnya kedudukan Islam sangat tinggi. Islam menawarkan keadilan dan keamanan. Islam mampu menyelesaikan segala persoalan umat dan kemelut dunia Islam. Maka, kesempatan Aidilfitri ini sebagai hari kemenangan ini umat Islam sewajarnya insaf diri dengan memperbaiki dan merawat kelemahan lama demi kejayaan mendatang. Dengan keyakinan ini moga cukup buat umat memperkemaskan komitmen dan meluruskan niat untuk mencurahkan segalanya demi pembebasan bumi Palestin dan dunia yang terjajah. Terserah kepada anda…!

*Penulis adalah penyelidik di Palestine Centre of Excellence (PACE), Malaysia dan seorang peguam pelatih di sebuah firma guaman di Kuala Lumpur.

Bacaan Lanjut – Sejarah: Palestin – Israel

Read Full Post »

unbenannt.jpg

Dua Pemimpin

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh 🙂

Mengenang Majlis Pelancaran Pembangunan Wilayah Ekonomi Pantai Timur (ECER) pada 29 Oktober 2007 bersamaan 17 Syawal 1428H di Kompleks Sekolah-sekolah Mek Zainab, Kota Bharu, Kelantan. Terbit rasa hati melihat isu perkembangan politik dan pembangunan terkini di negara Malaysia ini.

(more…)

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: